Warung Madura Versus Minimarket
![]() |
| Foto: kompas.com |
Pagi ini seperti biasa saya ngopi. Rutinitas yang tidak bisa diabaikan. Dari mana saya beli kopinya? Saya sering membeli kopi bubuk sasetan di warung dekat rumah saya. Sebut saja itu warung Madura, buka 24 jam.
Saya lalu teringat beberapa waktu silam, banyak pemberitaan seputar persaingan warung Madura dan minimarket. Di beberapa daerah heboh sampai hendak diberlakukan peraturan yang melarang warung Madura buka 24 jam.
Kebetulan di tempat saya tinggal tidak ada perselisihan itu. Warung Madura hidup berdampingan dengan minimarket seperti Alfamart atau Indomaret. Mereka bersaing seperti biasa dan setiap hari ada saja kok pembelinya.
Meski dalam beberapa hal mengambil segmen yang sama, tapi kedua bentuk bisnis ini tetap punya pelanggan yang berbeda.
Pada umumnya pembeli di warung Madura adalah orang-orang yang membutuhkan kebutuhan instan, langsung dipakai, dan cepat habis. Saya, misalnya, membeli kopi sasetan, dan langsung saya seduh dan cepat habis.
Agak berbeda dengan minimarket, yang memajang barang dagangan dalam kemasan lebih besar, meski ada yang sasetan. Itu tentu saja untuk para pelanggan yang langsung beli dalam jumlah banyak dan digunakan misalnya untuk satu bulan. Berbeda dengan pelanggan warung Madura yang kebanyakan untuk kebutuhan harian.
Ngomong-ngomong soal warung Madura, sebenarnya tidak hanya orang-orang Madura yang menjalankan bisnis warung 24 jam ini. Ada juga kok orang Kuningan, misalnya, atau orang Batak, dan lain-lain. Namun, yang sedang tren memang warung Madura, mungkin karena jaringan bisnisnya lebih tersusun rapi, dan menarik banyak orang untuk penasaran.
Nah, menyikapi persaingan bisnis seperti ini, ya dibikin santai-santai saja. Selama mereka bisa hidup dengan usahanya masing-masing, tak perlu repot-repot atau berlebihan dalam membuat peraturan.
Hmmm… ada juga kok minimarket yang juga buka 24 jam. Apakah minimarket itu yang punya orang Madura ya hehehe… becanda, Kawan. Salam inspirasi.

Leave a Comment